Babak Play-In Worlds 2025 kembali diwarnai kejutan besar! Dua tim yang diunggulkan, Fnatic dari Eropa (LEC) dan PSG Talon dari Pasifik (PCS), harus angkat koper lebih awal setelah tersingkir di babak eliminasi. Hasil ini membuktikan bahwa gap kekuatan antar region semakin menipis dan tim-tim underdog semakin sulit diprediksi.
Runtuhnya Fnatic: Mimpi Buruk Eropa Terus Berlanjut
Fnatic, harapan terbesar Eropa di Play-In, harus menelan pil pahit setelah kalah 2-1 dari LOUD (Brazil/CBLOL) di seri eliminasi. Kekalahan ini semakin memperparah tren buruk region LEC di turnamen internasional.
Analisis Kekalahan Fnatic:
-
Draft Pick Tidak Optimal: Komposisi hero Fnatic di game penentu dinilai terlalu eksperimental dan mudah dibaca lawan.
-
Kesalahan Individu Beruntun: Humanoid dan Noah melakukan beberapa miss-positioning krusial di teamfight penentu.
-
Mental Collapse: Tim tampak kehilangan konsentrasi setelah kalah di game pertama, dan gagal bangkit.
Kekalahan Fnatic ini merupakan pukulan telak bagi LEC, yang kini hanya menyisakan G2 Esports sebagai wakil Eropa di babak utama.
PSG Talon Gagal Mempertahankan Reputasi
Sementara itu, PSG Talon yang biasanya menjadi “raja” di babak Play-In juga tumbang. Tim asal Hong Kong ini dikalahkan dengan telak 2-0 oleh DetonatioN FocusMe (DFM) dari Jepang (LJL).
Penyebab Kegagalan PSG Talon:
-
Meta yang Tidak Cocok: PSG tampak kesulitan beradaptasi dengan meta terbaru yang mengandalkan early game aggression.
-
Kinerja Jungle yang Turun: Pemain andalan, JunJia, tidak mampu mendominasi area jungle seperti biasanya.
-
Strategi yang Terbaca: DFM berhasil mengantisipasi seluruh pergerakan dan rotasi PSG sepanjang seri.
Kekalahan PSG Talon menjadi sejarah manis bagi DFM dan region LJL, yang berhasil lolos ke babak berikutnya untuk pertama kalinya.
BACA JUGA: Esports Global Luncurkan Dana Investasi $50 Juta untuk Dorong Pertumbuhan Industri Esports dan Game
Lanskap Worlds 2025 yang Semakin Terbuka
Hasil mengejutkan ini membuktikan beberapa hal:
-
Region Minor Semakin Kompetitif: Tim dari Brazil, Jepang, dan region minor lainnya tidak lagi bisa dipandang sebelah mata.
-
Kedalaman Strategi: Tim underdog datang dengan persiapan matang dan strategi spesifik untuk menjegal tim unggulan.
-
Tekanan Turnamen: Nama besar dan pengalaman tidak lagi menjadi jaminan, karena tekanan Worlds bisa mengubah segalanya.
Dampak bagi Babak Utama
Dengan tersingkirnya Fnatic dan PSG Talon, babak utama Worlds 2025 kehilangan dua tim yang diharapkan bisa memberikan perlawanan sengit. Namun, kehadiran tim seperti LOUD dan DFM justru membawa warna dan cerita baru yang menarik untuk diikuti.
Kesimpulan: Era Dominasi Tim Unggulan Berakhir?
Tersingkirnya Fnatic dan PSG Talon di babak Play-In Worlds 2025 menjadi bukti bahwa era dominasi tim unggulan tradisional perlahan berakhir. Kini, setiap tim memiliki peluang yang sama, dan yang berbicara adalah performa di hari pertandingan, bukan nama besar atau reputasi masa lalu.
Worlds 2025 semakin seru dan tidak terduga! Saksikan lanjutan aksinya dan pantau terus perkembangan turnamen hanya di Pundit168!